St. Petersburg dan Paradigma Masyarakat Indonesia

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines, sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” – Mark Twain

“Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” – Miriam Beard

Kata orang, dunia itu luas.

Kata orang, dunia itu 2/3 bagiannya ditutupi oleh air.

Kata orang, setiap negara itu unik dan punya cerita yang menarik.

dan kata orang-kata orang lainnya.

Kita perlu untuk jalan-jalan kok, berkeliling melihat bagian dunia yang belum pernah kita jelajahi. Bumi ini terdiri dari banyak bagian dengan 6 benua yang punya keunikan masing-masing. Katanya, ada banyak cerita yang tersembunyi kalau kita bisa mengunjungi bagian-bagian bumi itu yang mungkin baru kita saksikan lewat media internet, buku, atau televisi. Bagaimana sebuah pengalaman berkunjung ke negara yang benar-benar asing bagi kita menyuguhkan banyak pikiran baru, energi baru, serta bagaimana kita melihat pandangan terbaru dengan kacamata terbaru pula. Ya, jalan-jalan. Tapi, bagaimana caranya bisa jalan-jalan tanpa biaya?

St. Petersburg, Rusia

St. Isaac Cathedral

19 Juni sampai 24 Juni 2012 lalu mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu momen terbaik yang mengubah hidup dan pandangan hidup saya. Ketika itu, saya diundang oleh Kementerian Ekonomi Federasi Rusia untuk hadir di 3rd Youth International Economic Forum di St. Petersburg, Rusia yang terafiliasi dengan salah satu acara ekonomi terbesar dunia yaitu St. Petersburg International Economic Forum 2012. Undangan itu diberikan kepada 50 pemuda/i asal Rusia dan 50 pemuda/i dari seluruh dunia yang dikategorikan sebagai bagian dari pemimpin muda dunia dan akan mempresentasikan ide dan gagasan atas permasalahan ekonomi, edukasi, dan kewirausahaan dari sudut pandang kaum muda. Indonesia tahun lalu diwakili oleh CEO Kebab Baba Rafi Hendy Setiono yang memiliki 200 outlet kebab di 3 negara dan kali ini, suatu kehormatan saya bisa mewakili Indonesia dan Asia Tenggara khususnya diajang dunia seperti ini dan tergabung dengan pemimpin muda lainnya yang kebanyakan merupakan mahasiswa-mahasiswa universitas paling bergengsi di dunia seperti Harvard University, Stanford University, Cambridge University, Princeton University, dan lainnya.

Youth International Economic Forum kali ini adalah forum yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Rusia dan mengangkat tema “Emerging Leadership”. Pengembangan jiwa kepemimpinan adalah sebuah isu yang dianggap oleh Pemerintah Rusia sangat sensitif terlebih dimasa globalisasi sekarang ini, dimana sebuah komunitas membutuhkan seorang sosok pemimpin yang akan bertindak layaknya seseorang yang bisa dijadikan panutan dan bukan semata-mata memimpin karena haus akan kekuasaan. Tema yang diberikan dalam forum ini dimaksudkan untuk mendorong kaum muda yang akan menjadi pemimpin dimasa depan untuk berpikir out of the box dalam hal menciptakan ide-ide dan inovasi segar atas permasalahan edukasi dan entrepreneurship yang ada di Rusia dan secara global serta membangun sebuah kerjasama dalam hubungan yang solid antar para pemimpin. Gagasan-gagasan yang muncul akan direkomendasikan kepada Pemerintah Rusia, didiskusikan oleh stakeholders, dan ditindaklanjuti sebagai bentuk solusi alternatif yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut.

Ada dua kata yang mungkin bisa menggambarkan bagaimana forum itu berjalan: luar biasa. Bagaimana kami mendapatkan ide-ide baru yang sungguh diluar pikiran; berkesempatan berdiskusi dengan para praktisi, professional, akademisi, dan pakar dibidangnya yang sudah dikenal oleh dunia internasional (saya berkesempatan untuk berbincang dengan Managing Director of World Bank Ibu Sri Mulyani Indrawati dan mendapatkan kerjasama dari seorang CEO sebuah perusahaan besar di Rusia dan India), menciptakan impian dan harapan baru, dan tentunya inspirasi besar yang tidak ternilai harganya adalah sebuah pengalaman yang benar-benar mengubah paradigma serta jalan hidup. Membangun sebuah networkdengan komunitas dari berbagai penjuru dunia adalah bekal berharga dalam merusak ekosistem yang telah ada dan membangun ekosistem baru yang tentunya diharapkan akan berhasil menciptakan iklim kepemimpinan yang penuh nilai dan akan membuat peluang-peluang untuk pengembangan dan pembangunan menjadi nyata.

Tulisan saya di Harian Rakyat Bengkulu

Tulisan diatas adalah cuplikan tulisan yang saya kirimkan ke Harian Rakyat Bengkulu dengan harapan keterlibatan saya di YIEF kemarin bisa memberikan manfaat serupa kepada pemuda/i Bengkulu untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan signifikan dalam character building dan demi menciptakan sebuah ekosistem baru yang ramah dengan perubahan positif di negeri ini.

Lalu kenapa saya cantumkan juga tulisan ini? Sebenarnya ada cerita panjang dibalik YIEF lalu. Tapi yang saya ingin bahas adalah sebuah paradigma baru yang mungkin sulit didapatkan jika kita terus diam di negeri kita, Indonesia. Saya dan kita semua mungkin sudah tahu bahwa Indonesia adalah negara yang begitu besar dan penuh potensi, namun sayang kadang toleransi yang didukung oleh pemikiran dangkal merusak itu semua. Yang timbul adalah masalah-masalah yang sering muncul dan sulit diselesaikan.

Solusi terbaik dari itu mungkin adalah dengan melihat ke negara lain; berkunjung ke negara lain.

Saya mendapatkan banyak sekali hal positif selama berkunjung ke St. Petersburg lalu. Selain daripada hal-hal yang telah disebutkan diatas, tentunya adalah suguhan menarik tentang apa yang bisa kita cerna dari sebuah gambaran kota St. Petersburg dan kita aplikasikan ke dalam negeri sendiri. Ada banyak hal yang bisa saya pikirkan dan saya harapkan mampu untuk dibawa ke Bengkulu dan Indonesia. Saya berjalan-jalan ke beberapa sudut St. Petersburg dan menemukan bahwa hampir di setiap sudut kota tersebut mereka mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris yang sangat baik. Coba di Bengkulu, boro-boro ada yang bisa kecuali “hi mister” dll. Padahal Rusia sendiri bukanlah negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibunya.

Kultur budayanya pun juga menarik, termasuk bagaimana mereka menata kotanya menjadi sangat indah untuk menarik perhatian wisatawan dunia untuk berkunjung kesana. Jalanan yang rapi dan susunan bangunan yang katanya hampir rata-rata berusia lebih dari 100 tahun menjadi suguhan yang benar-benar memanjakan mata.

Termasuk pula bagaimana cara mereka berpikir. Untuk hal ini, saya lebih banyak mengeksplorasi pikiran ketika forum berlangsung. Mungkin inilah yang menjadi salah satu bekal paling berharga. Mindset saya menjadi mindset orang yang ingin berbeda, mengeluarkan solusi dengan cara yang berbeda pula, dan tidak ingin menjadi pasif ketika aktif lebih dibutuhkan di zaman sekarang. Hal-hal diatas tidak bisa saya temukan selama 17 tahun berada di Indonesia. Dan itu mungkin menjadi penyebab utama kenapa pembangunan di Indonesia sedikit terhambat.

Contoh sederhana adalah bagaimana Bengkulu, kota saya tinggal di Indonesia, mengalami sebuah kemacetan pembangunan yang luar biasa. Besar kemungkinan adalah faktor cara berpikirnya yang menurut saya lucu sekali namun kadang perlu untuk diubah. Lihat saja bagaimana PNS merupakan pekerjaan idaman banyak pemuda disana setelah menamatkan kuliahnya. Apa menariknya menjadi PNS sih? Pemerintahannya pun lucu. Role model masyarakatnya pun lucu, yaitu pejabat-pejabat. Masyarakatnya pasif dan lebih tertarik untuk mengucilkan orang dan menertawakan mereka, padahal mereka tidak lebih baik karena tidak membawa solusi. Pemikiran-pemikiran konvensional masih terpelihara dengan baik, termasuk bagaimana bertoleransi dengan budaya yang bukan datang dari mereka.

Saya tidak menemukan itu di Rusia, kalaupun ada, persentasenya jelas kecil sekali. Mahasiswa mereka kebanyakan sudah berpikir jauh kedepan, bagaimana setelah lulus bukannya melamar kerja namun membuat pekerjaan. Atau, kalaupun masih sulit, harus menimba ilmu lebih tinggi lagi ke negara adikuasa lainnya, Amerika Serikat. Selama di forum, saya menyaksikan banyak sekali anak muda berbakat Rusia yang berangkat menuju ke Amerika Serikat untuk menimba ilmu di universitas-universitas top disana. Setelah lulus, mereka akan segera kembali untuk menularkan apa yang mereka dapat selama di Amerika Serikat dan diaplikasikan ke Rusia. Saya pun jadi ketularan dengan mereka. Benar-benar mindset yang berharga yang saya dapatkan. Hasilnya Rusia sekarang mulai menanjak berkat kepedulian warganya untuk berkembang maju dan menjadi berbeda. Tidak hanya di Moscow dan St. Petersburg, tapi hampir ke seluruh penjuru Rusia. Luar biasa sekali bukan?

Saran saya: pergilah keluar dan jangan berdiam diri. Kalau masih belum bisa, bacalah buku sebanyak-banyaknya karena buku-buku itulah yang kelak akan mengantarkan kita ke negara-negara baru. Bermimpilah, karena sebuah hal tidak akan terwujud jika tidak diawali oleh niat dan mimpi yang kuat. Setelah disana, nikmati negara itu dan bawalah paradigma baru untuk dibagikan ke masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia kalau dibiarkan akan seperti itu terus, terkungkung dalam sebuah budaya yang tidak akan membawa perubahan. Kalau bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi?

Refleksi Diri: Saya Juga Begitu Kok.

Manusia kadang bisa bertindak terlalu aneh. Melakukan apa yang seharusnya tidak perlu dilakukan, membeli sesuatu yang tidak perlu dibeli, diperintah atas sesuatu yang kadan mereka sendiri enggan untuk kerjakan.

… saya juga begitu kok.

Mungkin doktrin itu sudah terlalu kuat menancap di diri. Dari sejak SD, membeli mainan yang sudah tahu dalam jangka waktu seminggu akan menjadi mainan yang membosankan, tapi tetap saja dibeli. Walaupun mahal, apapun yang terjadi tetap harus dibeli. Kalau tidak dibelikan, mungkin harus ngotot ke orang tua, mogok makan, kalau perlu sampai nangis-nangis tidak mau pergi ke sekolah.

… saya juga begitu kok.

Ketika mulai masuk SMP, mulai mengenal sebuah alat aneh yang bisa mengirimkan pesan dan menelpon dimanapun berada. Rasanya keren sekali jika punya alat tersebut dan berhasil ditenteng-tenteng manis disekitaran kelas. Wuih, bangganya minta ampun. Seminggu kemudian, berdebat dengan orangtua apa keuntungan dari memiliki alat aneh tersebut yang jelas-jelas mahal tersebut? Marah, kesal, dan jengkel sampai akhirnya harus ngotot berhari-hari demi mendapatkan alat aneh tersebut. Alhasil, orangtualah yang mengalah dan seminggu kemudian kotak berisi alat aneh itu sudah berada di atas meja belajar.

… saya juga begitu kok.

Memasuki SMA, jelas zaman yang paling indah, apalagi kata orang, inilah zaman-zamannya seseorang mengenal lawan jenisnya lebih dekat dan terlibat dalam sebuah perasaan yang dijelaskan oleh Plato sebagai sebuah penyakit mentalitas yang serius. Cinta monyet, cinta seorang anak manusia kepada monyet. Banyak anak SMA melakukan berbagai cara agar bisa menarik perhatian lawan jenisnya. Mengambil gambar lawan jenisnya yang sedang tersenyum manis dengan temannya di ujung koridor sekolah, berpura-pura menggunakan laptop sembari mengerjakan tugas agar terlihat cerdas, atau yang paling umum, berusaha memberikan tumpangan gratis kerumahnya dengan motor keren keluaran terbaru. Hampir semua orang di sekolah menengas atas memiliki motor, dan jelas jangan sampai ketinggalan trend tersebut, apalagi didukung dengan adanya ‘si doi’ yang ingin sekali rasanya menawarkan tumpangan gratis sekaligus mencuri kesempatan bermesraan diatas motor baru. Lagi-lagi, demi pemenuhan hasrat yang sudah menggelora itu, orang tualah yang sekali lagi menjadi sasaran. “Harus beli motor sekarang, udah butuh!” Orangtua pun bingung, karena walaupun berdebat sekalipun, anak akan tetap ngotot tanpa berhenti sampai keinginannya terkabul. Beberapa hari kemudian, ajakan ke dealer motor untuk membeli motor idaman pun tiba, walau nantinya pembayaran harus dilakukan bulan per bulan karena terbatasnya keuangan keluarga.

… saya juga begitu kok.

Masa SMA telah selesai, kini tibalah ujian universitas menanti. Ingin masuk universitas ternama di Indonesia, apapun dilakukan agar diterima menjadi salah satu mahasiswanya. Belajar dilakukan dan ketika ujian, berhasil masuk ke universitas tersebut walaupun jurusan yang diterima bukanlah yang tidak terlalu diinginkan. Dasar negara aneh, ada banyak sekali biaya ini-itu yang harus dibayarkan sebelum resmi menjadi keluarga besar universitas besar itu, uang pangkal-lah, biaya gedung-lah, biaya matrikulasi-lah, ini-lah, itu-lah, banyak sekali. Dan itu tidak sedikit. Jutaan rupiah diperlukan sebelum benar-benar berhak menyandang nama sebagai bagian keluarga besar universitas itu. Karena belum sanggup membayar sendiri, tabungan orangtua untuk hari tua jebol demi memasukkan anak kesayangannya ke universitas yang diidam-idamkannya.

Universitas merupakan tempat yang mengerikan. Tidak sanggup beradaptasi, akan dilibas oleh yang lain. Demikian pula dalam kehidupan pergaulannya. Kebutuhan akan hiburan setelah perkuliahan yang membosankan, gadget-gadget yang digandrungi teman-teman dikampus yang kelihatannya bisa membantu meringankan tugas, dan mungkin, sebuah mobil yang kiranya dapat menghindarkan diri dari sengatan matahari dan membantu mengantarkan teman-teman ketika jam kuliah usai. Orangtua diteror ketika teman-teman terdekat memilih Singapura sebagai tempat liburan semester ganjilnya, orangtua diteror kembali atas permintaan ketika MacBook Pro menjadi sebuah laptop yang umum ditemukan disekitar kampus, atau yang agak ekstrim, ketika parkiran-parkiran mobil untuk mahasiswa dibuat khusus dikampus karena tempat lama sudah tidak memungkinkan lagi untuk memuat banyak mobil, maka berjejeranlah mobil-mobil baru berkeliaran diparkiran kampus, dan saat itu juga muncul proposal kepada orangtua untuk membelikan mobil yang mudah-mudahan dapat meningkatkan prestasi dikampus.

… saya juga begitu kok.

Itulah gambaran tentang diri saya sampai beberapa detik lalu, saya sadar bahwa semuanya salah. Ada sesuatu yang menjadi impian semua anak di dunia: menjadi anak yang dapat membanggakan orangtuanya. Saya pun demikian. Ingin sekali rasanya berbuat sesuatu demi menjadi anak kebanggaan orangtua yang terus menghasilkan prestasi. Sampai akhirnya kesempatan itu muncul, namun lagi-lagi harus merepotkan orangtua demi pencapaian prestasi tersebut. Kapan bisa mandiri? Kapan orangtua bisa dibuat bangga dalam versi sesungguhnya?

Sampai akhirnya, saya menulis tulisan diatas. Alasannya sederhana, karena itulah realita yang terjadi dikehidupan seorang anak, terlebih untuk saya. Seseorang cenderung melakukan sesuatu yang kadang tidak ingin dia lakukan, membeli sesuatu yang tidak dia butuhkan, diperintah atas sesuatu yang dia sendiri enggan untuk mengerjakannya.

Saya ingin sekali punya iPad baru. Keren sekali rasanya punya gadget ini dan bisa ditenteng kemana-mana. Lalu pertanyaannya, apakah saya butuh? Apakah saya akan bahagia jika punya iPad tersebut? Tidak.

Kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan barang tersebut, tetapi karena kita ingin membuat oranglain membuat sebuah pengakuan atas apa yang kita miliki. Belilah iPad, maka bukan saya yang akan bahagia, kecuali cuma perasaan bangga saja atas barang tersebut, dan hanya ingin membuat orang lain terkesima atas apa yang saya punya, iPad. Lalu bukan respek yang didapat, kecuali rasa iri dan pendistribusian kalimat ‘pa ma saya harus beli iPad sekarang’ berjalan lebih cepat dikalangan orang-orang tersebut. Lagi-lagi bukan karena dia ingin bahagia, tetapi agar orang yang lain lagi terkesima dan mendapatkan pengakuan. Se-simple itu.

Saya jadi teringat sebuah quote dari Will Smith beberapa waktu lalu:

“Too many people spend money they haven’t earned, to buy things they don’t want, to impress people they don’t like.”

Ya, betul sekali, dan mudah-mudahan quote diatas bisa menjadi penutup yang baik atas tulisan singkat kali ini.

… mudah-mudahan bisa segera berubah menjadi yang lebih baik.

dan mudah-mudahan …

… saya juga bisa jadi anak baik kok. 🙂


NB: Tulisan ini saya dedikasikan untuk orangtua saya yang selalu saja saya repotkan karena anaknya belum bisa menjadi mandiri. Terimakasih Ibu dan Papa, mudah-mudahan cita-cita anaknya yang ini bisa segara terwujud berkat doa yang senantiasa dipanjatkan oleh kalian berdua. Terimakasih.

Mahasiswa dan Aksi Anarkis Dibelakangnya

Indonesia. Lagi-lagi negara ini dihebohkan dengan sebuah isu yang memicu pergolakan besar dari berbagai elemen masyarakat yang ‘mungkin’ dipelopori oleh kaum cendekia bernama mahasiswa. Pergolakan ini sebenarnya sederhana, yakni hanya tidak setuju dengan isu yang diangkat yang dianggap tidak pro rakyat dan merugikan sebagian besar masyarakat menengah kebawah. Pergolakan ini bisa memacu terjadinya banyak aktivitas dalam rangka menyuarakan pendapatnya; bisa jadi lewat demo, diskusi, debat, atau mungkin lewat tulisan-tulisan berupa opini yang dikirimkan ke surat kabar.

Tapi sayang, hari ini saya cukup kecewa terhadap tingkah laku mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang menjengkelkan. Indonesia sekarang memang sedang hangat-hangatnya membahas sebuah isu yang diangkat oleh pemerintah yaitu kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM terutama Premium ke angka Rp 6000,- per 1 April 2012. Polemik mulai bermunculan, mulai dari yang pro sampai ke yang kontra, hingga ke kaum yang adem-ayem saja menerima keputusan pemerintah.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan isu tersebut. Indonesia terhitung sudah berulang kali menaikkan (bahkan sempat menurunkan) harga BBM karena tidak stabilnya harga minyak dunia yang hari ini bahkan menyentuh angka diatas USD 100 per barel. Demi beradaptasi dengan kenaikan harga minyak mentah dunia tersebut, maka keputusan untuk menaikkan harga BBM di Indonesia diambil, tentunya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang ada. Tiap kali kenaikkan harga BBM, apa yang terjadi di Indonesia? Aksi demonstrasi yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia hadir untuk menentang kebijakan tersebut. Dan hasilnya: tidak ada apapun terjadi terkait kebijakan tersebut. Harga BBM tetap naik, dan masyarakat perlahan-lahan mulai melupakan kenaikan tersebut seiring mereka sebagai subjek konsumen utama tetap membutuhkan BBM setiap harinya.

Apa yang terjadi hari ini sungguh memalukan. Mahasiswa di Makassar yang mengatasnamakan mahasiswa dari UIN Alauddin Makassar terlibat bentrokan anarkis dengan polisi bahkan hingga pukul 20.30 WITA setelah sebelumnya merusak restoran cepat saji McDonald yang terletak didekat kampusnya. Alasannya sungguh lucu sekali: karena McDonald adalah produk Amerika dan mereka melakukan pengerusakan sebagai upaya pengecaman yang menganggap Boediono adalah seorang wapres yang menganut paham neo-liberal. Are you guys really kidding me?

Yang saya temukan pada faktanya adalah, persetan dengan suara jeritan masyarakat yang ingin mereka bawa dan perjuangkan. Pada kenyataannya adalah, mereka ingin melakukan tindakan anarkis yang diselubungi oleh embel-embel ‘demonstrasi’ didepannya. Percayalah karena temuan polisi ketika demo berakhir sungguh mengejutkan. Ratusan batu ‘siap lempar’ ditemukan dan dibawa oleh ambulans Palang Merah Indonesia dan yang lebih mengejutkan di Jakarta 20 bom molotov ditemukan di sekitaran area Stasiun Gambir setelah penyisiran seusai demo dilakukan. (Tidak terkait dengan demo sebelumnya di Makassar) Apa yang tidak bisa saya jawab selanjutnya adalah dari mana logikanya batu-batuan dan bom molotov itu dipersiapkan dalam sebuah demonstrasi penyampaian pendapat, dan untuk apa? Menurut saya jika saya akan melakukan sebuah demonstrasi, maka perlengkapan yang perlu saya bawa adalah pengeras suara, umbul-umbul atau spanduk yang berisikan kalimat-kalimat menentang kebijakan pemerintah, dan tidak lupa air minum botolan (takut-takut nanti saya pingsan kehausan dan kepanasan sewaktu demo berlangsung). Dan, sebuah indikasi yang menunjukkan bahwa apa yang mereka inginkan adalah sebuah pertikaian dan penyerangan yang brutal, bukan sebuah penyampaian aspirasi damai.

Saya bingung. Kenapa demonstrasi tersebut harus berakhir dengan aksi anarkis nan brutal? Kenapa harus ada batu-batuan dan bom molotov jika memang yang diinginkan adalah aspirasi sebagian besar masyarakat didengar oleh pemerintah? Kenapa harus ada bentrokan?

Siapa yang dirugikan? Tidak ada kecuali mahasiswa itu sendiri. Berkat aksi anarkis tersebut, mereka mencoreng nama mereka sendiri dengan predikat ‘kriminalisme kaum intelektual’, memperkuat citra premanisme, serta mengindikasikan ‘kemampuan menelaah pikiran yang masih lemah’. Saya sendiri merasa dirugikan, karena sebagai bagian dari masyarakat yang namanya dicatut oleh mereka untuk diperjuangkan, saya merasa suaranya tidak tersampaikan karena saya tidak menginginkan aksi brutal itu berakhir dengan bentrokan. Saya juga setuju dengan kenaikan harga BBM dengan berbagai pertimbangan yang saya punya. Lalu, bagian masyarakat mana lagi yang mahasiswa-mahasiswa tersebut bawa-bawa dalam aksi demonstrasinya?

Satu lagi kenyataan yang ada adalah bahwa mahasiswa-mahasiswa dan elemen lain yang melakukan aksi demonstrasi berujung bentrok tersebut tidak mengenal sebuah arti inter-personal dalam sudut pandang yang berbeda. Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan para polisi yang bertugas di lapangan mengamankan aksi demo yang mereka lakukan? Toh mereka juga bagian dari ekosistem masyarakat, dan mereka pun (pastinya) turut mengeluh dengan kebijakan kenaikkan harga BBM tersebut. Tapi kenapa mereka yang masih anggota masyarakat tersebut diserang? Apa mereka ingin kenaikkan tersebut diadakan? Apa mereka tidak memikirkan bagaimana kenaikkan tersebut nantinya akan mempengaruhi kenaikkan harga barang-barang lainnya dan turut membuat berpikir bagaimana dapur untuk keluarga harus mengepul keesokkan harinya? Mahasiswa sebagai kaum yang terpelajar juga seharusnya memikirkan perspektif dari sudut pandang yang berbeda. Percuma saja dong belajar jurusan yang macam-macam dengan IPK yang menjulang tinggi tapi rasa kemanusiaan terhadap sesama masih rendah sekali. Saya pun jadi berpikiran bahwa memang aksi bentrokan tersebut pastilah dimulai dari mahasiswa. Polisi tidak memulai kalau memang tidak ada pemicu sebelumnya. Kalau menyerang karena citra polisi yang buruk selama ini, maka berpikirlah ulang karena tidak selamanya kita bisa mengeneralisasikan segala sesuatunya dengan sama.

Pada akhirnya, saya ingin menyampaikan: era transformasi Orde Baru ke reformasi yang permasalahannya bisa diselesaikan dengan aksi brutal turun ke jalan sudah selesai. Itu terjadi 14 tahun yang lalu, dan penerapannya pun tidak lagi dilaksanakan (terkait dengan kemanusiaan dan HAM). Mahasiswa harusnya mencari solusi-solusi alternatif baru dengan jalan terbaik. Bukan mahasiswa namanya kalau hanya menjalankan sistem konvensional dan tidak membawa angin segar perubahan sebagai agen di masyarakat. Daripada menyelenggarakan demo yang menggelontorkan dana besar (dan sebagian bukan dilaksanakan dari hati melainkan ada sokongan dana dibelakangnya), lebih baik menciptakan lapangan pekerjaan baru yang bisa meningkatkan taraf hidup dan daya beli masyarakat. Orang-orang di Turki misalnya tidak mengeluh atas mahalnya harga BBM disini (di Turki, harga bensin sekitar Rp 20.000,-) karena daya beli masyarakatnya yang tinggi. Kalau kenaikkan yang cuma Rp 6000,- mengeluh, itu sama artinya dengan indikasi masyarakat Indonesia masih didominasi oleh kaum menengah kebawah. Orang miskin sama dengan kecenderungan meningkatnya angka kebodohan. Lalu sekali lagi, kenapa tidak dinaikkan saja taraf hidup dan daya belinya? Toh dengan hal tersebut, menunjukkan bahwa semakin membaiknya ekonomi Indonesia dan kenaikkan angka kesejahteraan masyarakat yang bermukim didalamnya.

Demonstrasi boleh-boleh saja asal dibatasi oleh ketentuan dan peraturan yang ada. Tapi semua adalah pilihan, dan di dunia ini pasti selalu ada pilihan yang lebih baik. Terus belajar dan bekarya demi kebaikan bangsa bisa jadi alternatif lain selain demonstrasi yang saya yakin akan membawa lebih banyak manfaat untuk masyarakat. Percayalah, kita semua agen perubahan dan pemimpin di masyarakat. Aksi brutal bukanlah yang kita inginkan, melainkan keluarnya ide-ide cemerlang demi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan.

Salam dari Istanbul,

Azhari Kahfi

Tulisan Absurd di Waktu Senggang

Wah ternyata sudah lama juga saya tidak nge-blog. Kadang blog itu kayak pacar, udah lama gak ditengokin tapi kadang bisa bikin kangen juga. Yaudah, udah terlanjur punya waktu santai sebentar, saya sempatin untuk nulis tulisan absurd deh disini..

Well, this month and few moments later might be the best and the busiest months I’d ever have. Jadi saya sekarang lumayan disibukkan oleh beberapa kegiatan yang lumayan menyita waktu, dan itu begitu menyenangkan sampai saya lupa bahwa kegiatan-kegiatan tersebut menguras energi yang tidak sedikit. Menulis untuk kompetisi, menjadi jurnalis untuk Tim Media dan Jurnalistik PPI Istanbul, menjadi panitia di beberapa kegiatan PPI Istanbul (tentu saja tidak lagi menjadi seorang ketua, menjadi ketua begitu melelahkan ternyata T.T), menghabiskan waktu dikampus sebagai calon scientist dan engineer, dan semua hal tersebut menjadi sebuah proyeksi atas persiapan rencana-rencana baru yang akan lebih mendekatkan diri kepada apa yang telah menjadi passion saya selama ini: kepemimpinan, keorganisasian, ilmu pengetahuan, dan entrepreneurship. Luar biasa! Saya bahkan bisa kembali menulis untuk media online setelah sempat vakuum selama beberapa waktu. I’ve got my hobbies back.

Selalu berikhitiar, belajar, merevisi, dan melakukan. Those are the reasons why I survive so far. Saya tergelincir di beberapa pelajaran semester lalu, tapi bukan berarti saya harus menyerah. Seperti kata Thomas Alfa Edison yang selalu saya ingat, bahwa dia bukan gagal ketika percobaan menemukan lampu bohlamnya tidak berhasil, tetapi hanya melakukan 10.000 kesalahan kecil untuk menemukan kesuksesan pada lampu bohlamnya. Jadi, mesti banyak sekali yang harus saya perbaiki sekarang ini.

Besok, saya dan teman-teman dari Tim Media PPI Istanbul menyiapkan persiapan untuk launching blog terbaru PPI Istanbul. Beberapa hari lagi, ujian Mid-term Fisika akan segera dimulai dan disusul oleh beberapa pelajaran lainnya. Tanggal 10, saya dan teman-teman akan menonton acara Japanese Jazz yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Jepang di Istanbul. Kemudian, menjadi jurnalis lagi di acara Latihan Dasar Kepemimpinan PPI Istanbul pada keesokkan harinya. Setelah itu, menyiapkan proyek video untuk diikutsertakan pada kompetisi kepemudaan di Jakarta. Wah luar biasa padatnya, tapi tetap menyenangkan karena semua saya lakukan secara sukarela dengan hasrat pemenuhan passion saya selama ini. Like other says, when you love your job, it doesn’t mean that you really work because of your hobbies.

Oiya, terimakasih untuk teman-teman yang sudah berkunjung ke blog saya. Saya baru pemula yang masih ingin terus belajar. Ditunggu kritik dan sarannya ya..

Salam persahabatan dari Istanbul yang mulai memasuki hangatnya sinar matahari di musim semi. 🙂

Salam,

Azhari Kahfi

Orang Sukses Itu Apa ya?

Orang sukses itu apa ya?

Banyak orang yang sedari dini sudah mulai memikirkan tentang definisi menjadi orang sukses. Saya juga mulai berpikir dan berinitisiatif untuk mulai menemukan arti dari menjadi seseorang yang sukses, dan seperti kebanyakan orang, saya akhirnya menemukan apa arti menjadi seseorang yang sukses bagi diri sendiri.

Definisi sukses bagi saya mungkin berbeda dengan kebanyakan orang lain, sama halnya ketika orang lain mengganggap arti sukses bagi dirinya akan berbeda dengan kebanyakan cara berpandang yang lain. Seseorang mungkin mendambakan sebuah kesuksesan dengan menjadi dokter, seseorang mungkin mengartikan sukses sebagai menjadi seorang menteri di departemen yang ingin ia pimpin, atau mungkin yang sederhana, mempunyai keluarga kecil bahagia yang hidup dengan tanpa kekurangan.

Pagi ini saya seperti biasa, kedatangan tamu yang secara tidak sopan masuk ke dalam kepala saya. Kali ini tamu tersebut memaksa saya berpikir dan mulai membahas mengenai sebuah definisi bernama sukses.

Menjadi seseorang yang sukses memang akan selalu jadi polemik, dan sepertinya memang sudah seperti itu kodratnya. Polemik yang timbul yakni manakala orang mulai membuat sebuah standar baku untuk mencapai kesuksesan. Tapi yang perlu diperjelas adalah, tidak akan pernah ada sebuah standar bahwa orang sukses adalah orang sukses yang berhasil memperoleh pencapaian A, B, atau C. Namun realita yang terjadi adalah, kita mulai melupakan arti tersebut dengan penilaian-penilaian yang diambil secara sepihak.

Menjadi sukses bagi saya sendiri adalah proses untuk mencapai sebuah tujuan yang dituju. Dalam hal ini, saya akan memberikan sebuah contoh sederhana tentang seorang anak (atau pada sebagian kasus kehidupan nyata orang tuanya-lah yang memaksakan kehendak ke anaknya) untuk menetapkan standar suksesnya di masa depan adalah dengan menjadi dokter spesialis jantung yang terkenal.

Contoh prosesnya adalah berikut:

Anak tersebut mulai belajar keras untuk berusaha masuk ke sebuah universitas favorit setelah ujian nasional SMA selesai. Walaupun sulit, tapi ia akan berusaha hingga melampaui batas-batas yang ia punya untuk mulai memasuki sebuah area yang selangkah lebih dekat akan mengantarkan kepada  kesuksesan yang ia tuju. Pada pengumuman ujian masuk tersebut, secara mengagumkan ia berhasil masuk ke jurusan kedokteran umum yang ia mau dengan menyisihkan ribuan orang lainnya. Stelah berhasil masuk, ia pun akan rela ikhlas untuk dipaksa begadang, mencari materi hingga pulang dari kampus sampai larut malam, belajar sampai mengorbankan kesehatan diri sendiri ketika mulai memasuki masa ujian, semua demi sebuah nilai yang ingin ia dapatkan lagi-lagi agar bisa mengantarkannya ke arah kesuksesan yang lebih dekat. 4 tahun pun berlalu, si anak berhasil lulus dengan nilai yang menyenangkan dan mulai melanjutkan ke sebuah proses lainnya untuk menjadi dokter, yakni mengikuti KOAS. Jarang berada dirumah karena kebanyakan waktu dihabiskan di rumah sakit, menahan amarah dokter pembimbing ketika melakukan kesalahan kecil dalam menganalisis penyakit pasien, dan lain sebagainya. KOAS pun akhirnya berakhir, dan akhirnya secara mengesankan ia pantas dan diperbolehkan untuk mengenakan gelar dokter di depan namanya.

Sebuah kesimpulan bisa diambil dari sini.

1. Universitas dalam hal ini menjadi sebuah alat (tool)  yang dimanfaatkan untuk mengantarkan kita menuju kesuksesan. Alat tersebut adalah sesuatu yang kita percaya akan mengantarkan pada standar kesuksesan yang kita tetapkan, dan alat itu haruslah dipilih dengan hati-hati dan yang terbaik karena akan membawa kita dengan konsekuensi menuju kesuksesan yang berkualitas atau tidak. Maka jangan heran bahwa universitas favorit dengan kualitas terbaiklah yang biasanya kita pilih, walaupun sejujurnya sangat sulit dan memerlukan tenaga ekstra.

2. Setelah kita berhasil memasuki universitas favorit itu mati-matian, maka kita akan menghadapi sebua istilah “Sudah jatuh tertimpa tangga.” Sudah susah-susah masuk ke universitas, kehidupan di kampus itu ternyata lebih susah lagi, malah jauh sekali dengan bayangan kita selama ini. Kerelaan kita untuk tersiksa begadang, belajar lebih keras, atau apapun itu demi sebuah misi yang ingin dicapai adalah proses yang secara sukarela kita cintai dengan atas nama meraih kesuksesan. Siksaan itu dengan ikhlas kita jalani satu persatu, mengeluh tapi tetap kita jalankan. Mungkin ini adalah proses kesuksesan sebenarnya, bahwa menuju sukses ternyata tidaklah gampang dan tidak ada yang instan.

Sederhananya, orang yang ingin buang air besar haruslah ngeden dulu baru “harta” terpendamnya bisa keluar. Bahkan, ia tetap harus membuka celananya dulu sebelum bisa melakukan ritual tersebut. Walaupun kadang menyakitkan karena keluarnya susah, kita tetap ikhlas menjalaninya. Tapi lihat setelah acara buang air besar itu selesai. Kelegaan dan kebahagiaan karena akhirnya proses yang berat itu berakhir juga adalah sesuatu yang sangat menyenangkan sekali bukan? Dan itulah proses yang berat yang kadang kita lupa nikmati, bahwa proses-proses berat itulah yang sebenarnya akan mengantarkan kepada sebuah kesuksesan.

Lalu, apakah cerita si anak yang kini telah menjadi dokter berakhir disitu saja? Belum.

Si anak karena standar kesuksesannya adalah menjadi dokter spesialis jantung yang terkenal ternyata tetap harus untuk melanjutkan pendidikan kespesialisannya. Setelah berhasil menjadi dokter umum, ia kini mulai bekerja di sebuah rumah sakit dan juga membuka sebuah tempat praktik dirumahnya. Menekan pengeluaran dan menghasilkan sebanyak mungkin uang karena biaya kuliah untuk jenjang spesialis sangatlah mahal harus ia lakukan demi kembali mendekati standar sukses yang ia pilih, sampai akhirnya setelah beberapa tahun ia berhasil memperoleh gelar spesialis jantung yang ia kehendaki dan melakukan banyak operasi medis yang pada akhirnya membuat ia terkenal di kotanya.

Ada banyak hal lain yang bisa kita amati selama cerita ini berlangsung.

1. Sukses mempunyai sebuah proyeksi skala waktu yakni apakah itu sukses yang akan diraih dalam jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjang. Jangka pendek dan jangka menengah biasanya adalah sebuah kumpulan yang akan mengantarkan pada kesuksesan jangka panjang. Ketika si anak masih SMA, standar kesuksesannya adalah berhasil lulus ujian nasional SMA dan mendapatkan jurusan yang akan mengantarkan ia pada kesuksesannya yakni jurusan kedokteran umum. Kalau tidak berhasil mendapatkan jurusan kedokteran, maka ia tidak akan sukses seperti dalam versinya. Setelah itu, ia mempunyai proyeksi sukses jangka menengah yakni menyelesaikan perkuliahannya tepat waktu dan mendapatkan gelar dokter, dan artinya ia harus kuat dengan segala kondisi yang memungkinkan. Tidak kuat dengan tekanan, maka kesuksesan itu haruslah sirna. Setelah menjadi dokter, maka ia mulai mempersiapkan dengan skala jangka panjangnya yakni memperoleh gelar spesialis jantung. Perjalanan memakan waktu mulai dari mempersiapkan tabungan yang banyak hingga tantangan-tantangan lainnya ia hadapi demi sukses jangka panjangnya tersebut.

2. Sukses sebenarnya tidak mengenal akhir. Kenapa? Karena bisa saja si anak tersebut setelah berhasil memperoleh gelar spesialis jantungnya dan tempat praktiknya sudah terkenal mulai berpikiran untuk membuka rumah sakit sendiri dengan ia mengepalai sendiri rumah sakit tersebut. Who knows? Realita serupa terjadi di dunia politik. Orang mulai memimpikan menjadi seorang anggota DPRD. Ketika sudah menjabat anggota DPRD tersebut, ia menginginkan kursi yang lebih tinggi di keanggotaan DPR-RI. Setelah berhasil, ia mulai berpikir untuk menjadi ketua pimpinan di partainya. Lobi politik pun dimulai dan ia mengingkan menjadi seorang menteri, hingga akhirnya dia menginginkan kepemimpinan yang absolut yakni dengan menjadi presiden.

Sukses Bagi Masing-Masing Pribadi

Sekali lagi, tidak akan pernah ada standar baku tentang bagaimana menetapkan apa arti sukses bagi setiap orang. Saya sendiri menganggap bahwa yang bisa menilai seseorang itu sukses atau tidak ya dirinya sendiri dan orang-orang yang berusaha untuk menilainya. Saya misalnya menganggap diri saya sudah sukses ketika saya sudah menjadi manager di perusahaan tempat saya bekerja, tapi pandangan orang lain bisa saja berbeda bukan? Orang lain bisa saja menetapkan patokan saya sukses kalaulah saya bisa menjadi direktur, bukan sekedar menjadi seorang manager. Tapi sekali lagi, tidak akan ada yang bisa menetapkan standar sukses kecuali kita sendiri yang membuatnya. Orang boleh saja menilai lain, tapi tetap keputusan terbesarnya berada di tangan kita sendiri.

Seorang petani mungkin punya standar sukses ketika sudah berhasil memiliki puluhan hektar sawah dan memiliki sistem pengelolaan sendiri. Seorang anak dianggap sukses ketika berhasil membelikan orangtuanya rumah dan mempensiunkan keduanya lebih dini. Seorang arsitek mungkin dianggap sukses ketika hasil rancangannya dapat direalisasikan sekaligus mendapat apresiasi dan menjadi buah bibir atas keberhasilannya. Semua sah-sah saja, tergantung bagaimana cara dirinya dan orang lain menilainya.

Arti Sukses Bagi Saya Sendiri

Bagi saya sendiri, sukses itu sederhana: melakukan dan memperoleh sesuatu diatas rata-rata masyarakat. Memberikan pengabdian lebih kepada orang tua dan masyarakat, mendapatkan dukungan positif atas kinerja yang saya lakukan, dan mendapatkan apa yang tidak bisa orang lain dapatkan. Secara harfiah mungkin: do more, get more. Melakukan sesuatu diatas rata-rata untuk mendapatkan sesuatu diatas rata-rata. Untuk detailnya, tentu saya punya rencana sendiri dan tidak akan saya tuliskan disini. Biarlah hanya saya dan Allah yang tahu dan mudah-mudahan standar sukses saya itu bisa tercapai secepatnya atas seizin Allah. J

Hubungan Sukses dan Uang

Nah, ini adalah perdebatan yang sangat sering muncul. Banyak orang mengkait-kaitkan permasalahan tentang jumlah banyaknya uang yang diperoleh uang dan standar sebuah kesuksesan. Tentu saja banyak sekali opini yang bertebaran tentang masalah ini. Nah saya tentu punya pandangan pribadi tentang hal ini.

Sukses bagi saya seperti yang saya katakan tadi adalah melakukan dan memperoleh sesuatu diatas rata-rata. Ini tentu juga akan berkaitan dengan ilmu dan pengetahuan, karena normalnya orang sukses adalah orang yang jangkauan ilmunya sangat luas dan sangat banyak, entah mau apapun jenis ilmu tersebut; ilmu agama, ilmu sains, ilmu politik, ilmu perdagangan, dan macam-macam lainnya. Yang jelas sekali lagi, ilmunya adalah ilmu diatas rata-rata orang lain.

Bagi saya, sukses identik dengan uang. Alasannya cukup jelas, artinya orang dengan ilmu lebih adalah orang yang mampu mengaplikasikan ilmunya demi menjadi menara magnet untuk menarik uang-uang tersebut. Ketika ia tidak mampu untuk menarik uang-uang agar berdatangan ke kantongnya, maka sebenarnya itu menjadi ketidakmampuan dalam memanfaatkan apa yang ia telah punyai dan peroleh. Bill Gates dengan pengetahuan hardware dan softwarenya, menjadi manusia terkaya di bumi ini. Warren Buffet dengan pengetahuan investasinya, mampu menyedekahkan US$ 29 milyar yang juga mencatatkan ia sebagai manusia nomer 2 paling kaya di bumi. Steve Jobs dengan pengetahuannya tentang kaligrafi di komputer, menciptakan perusahaan Apple yang konon uang cash-nya lebih banyak ketimbang yang Pemerintah Amerika Serikat miliki. Atau yang umum ditemui, pengetahuan berdagang orang-orang Padang dan Cina membuat mereka memililki jumlah uang yang lebih banyak ketimbang yang kita miliki saat ini. Dan apa pandangan masyarakat luas tentang hal ini? Banyak uang sama dengan sukses, dan hal itu sama sekali belum dapat digoyahkan sekarang ini.

Dalam hal ini, saya teringat dengan sebuah ucapan dari seorang bijak yang berbunyi: “Money do not create men, but men create the money.”

Sekali lagi, pandangan orang boleh saja berbeda. Semua punya hak yang sama untuk mengemukakan pendapat.

Secara sederhananya, saya bisa mengambil kesimpulan lagi: orang sukses adalah orang yang ketika menginginkan sesuatu dapat membelinya tanpa pusing memikirkan yang lainnya. Itu saja.

Membuat Resolusi untuk 2012: Perlu Gak Sih?

Setiap kali pergantian tahun dimulai, biasanya selalu dihiasi oleh pertanyaan-pertanyaan sederhana macam: “Wah udah ganti tahun, tahun depan mau ngapain ya?” atau “Tahun depan bisa kejar target gak ya?” Ya, biasanya sih itulah standar pertanyaan yang akan keluar dari setiap pikiran kepala kita. Semua orang punya pikiran yang sama kah?

Boleh jadi, resolusi menjadi semacam panduan yang seseorang ingin capai/gapai ketika tahun selanjutnya dimulai pada bulan Januari hingga berakhir di bulan Desember. Kalau negara punya GBHN (Garis Besar Haluan Negara) untuk menjalankan roda pemerintahannya, tiap individu memiliki resolusi untuk memprogram roda kehidupannya setahun kedepan. Namun, tidak setiap orang lho yang berpikir bahwa resolusi itu penting. Mungkin cuma sedikit orang yang benar-benar memprogram apa yang ingin mereka gapai selama satu tahun tersebut. Padahal, bisa jadi ada peristiwa luar biasa yang terjadi kalau kita menuliskan resolusi tersebut? Tidak percaya? Kalau tidak percaya, lanjutkan membaca dibawah sini ya. 🙂

Cerita Awal Membuat Resolusi

Nah, cerita tentang resolusi ini datangnya dari saya sendiri. Jujur, dulu saya sama sekali orang yang tidak percaya dengan yang namanya resolusi. Membuat resolusi bagi saya mungkin hanya peristiwa buang-buang waktu yang tidak berguna. Sampai suatu saat, saya akhirnya membuat sebuah resolusi dimana suatu keadaan memaksa saya melakukan sesuatu yang jauh dari kemampuan saya. Waktu itu saya sudah lumayan banyak membaca buku-buku tentang impian, jadi untuk saat itu, yang ada dipikiran saya adalah menuliskan sebuah list yang ingin saya gapai dalam jenjang waktu satu tahun. Waktu itu, resolusi pertama yang saya tulis adalah ketika awal memasuki semester 2 kelas 3 SMA.

Apa yang saya lakukan saat itu? Sederhananya: menutup pintu kamar, benar-benar membuat keadaan diam, mengambil marker hitam dan kertas, kemudian duduk diatas meja sembari berpikir. Berpikir apa yang ingin saya gapai di selang satu tahun ini? Yasudah, tanpa banyak pemikiran, saya tuliskan 13 resolusi yang isinya saya tulis berdasarkan apa yang terlintas di kepala saya saat itu. Kenapa 13? Karena bagi saya Allah swt. itu menyukai sesuatu yang berjumlah ganjil, dan juga sebenarnya karena cuma 13 resolusi yang bisa saya pikirkan saat itu hehehe. Dengan modal bismillah, saya tulis 13 resolusi itu tebal-tebal diatas kertas terus saya tempelkan di lemari pakaian saya, supaya bisa dilihat kapan pun saya mau. Waktu itu, kebanyakan resolusinya adalah ingin diterima kuliah di beberapa perguruan tinggi favorit di Indonesia. Ada satu hal yang saya lakukan ketika menulis resolusi itu, yakni mengosongkan resolusi di urutan yang ke-13. Yang saya lakukan di resolusi ke-13 adalah cuma menuliskan titik-titik. Saya mengosongkan resolusi ke-13 dengan satu harapan: biarlah Allah yang mengisi dengan kehendak-Nya. Saya cuma percaya bahwa seringkali Allah memberikan kejutan kecil untuk umat-Nya yang tidak pernah berputus asa kan? Tentunya sambil mengosongkan resolusi ke-13 itu, ada doa yang saya panjatkan agar yang terbaiklah yang akan Allah berikan.

Belum setahun berlalu, resolusi di kertas itu sudah saya buang ke tempat sampah. Ternyata, hampir semua resolusi impian yang ingin benar-benar saya gapai malah tidak ada yang berhasil. Puncak klimaksnya adalah ketika saya gagal melaksanakan resolusi paling besar yang ingin saya raih, yaitu kuliah di kampus impian saya, ITB. “Wah, resolusi ini tidak berguna,” ujar saya dalam hati. Maka berakhirlah kertas berisi resolusi itu dengan hasil sobekan-sobekan di tempat sampah.

Tapi cerita belum berakhir disitu saja.

Setahun pun hampir berlalu dan saya bahkan juga sudah hampir lupa dengan kertas berisi 13 resolusi itu. Sampai suatu ketika, saya termenung sejenak ketika sedang berada di kampus STAN untuk mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru yang diterima. Ya, saat itu saya berhasil menjadi salah satu orang yang beruntung di Indonesia, menyisihkan 311 ribuan peserta untuk 3000 kuota mahasiswa baru yang tersedia. Dan jurusannya pun jurusan yang saya inginkan, D3 Perpajakan. Dan untuk Provinsi Bengkulu, kalau tidak salah, cuma 14 orang yang diterima di STAN untuk tahun 2010, dan kebanyakan yang diterima adalah juara umum atau bahkan peserta Olimpiade Sains tingkat Nasional. Sedangkan saya? Wah benar-benar diluar dugaan pokoknya. Alhamdulillah untuk segala kebaikan yang telah Allah berikan untuk semua umat-Nya.

Nah, saat itulah saya teringat kembali dengan kertas resolusi yang sudah saya buang tersebut. Memang saya tidak berhasil kuliah di ITB, tapi saya ternyata mampu untuk diterima menjadi mahasiswa STAN, yang bisa jadi sungguh diluar dugaan. Saya masih ingat STAN adalah resolusi ke-8 yang entah mengapa, saat itu angka delapannya saya bulatkan besar-besar. Dan memang, ternyata saya berhasil meraih STAN! Saya pun masih ingat dengan resolusi lain. Walaupun sebagian gagal, sebagian lainnya ternyata berhasil saya raih. Luar biasa memang keajaiban atas menulis resolusi. Saya pun akhirnya menjadi menyesal mengapa kertas resolusi itu saya buang. Oiya, masih ingat dengan resolusi ke-13 yang saya kosongkan tersebut? Ternyata Allah memang mengisinya dan mewujudkannya, tepat seperti apa yang saya inginkan. Sungguh Maha Besar Allah atas apapun yang Ia kehendaki. Ngomong-ngomong, apa sih keinginan yang saya harapkan untuk resolusi ke-13 itu? Rahasia, hehehe. Yang jelas, impian 3 tahun itu akhirnya terwujudkan juga. Saya jadi ingat dengan sebuah hadits yang bunyinya: “Aku menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku…” Kalau kita menyangka Allah baik, ya memang itulah yang Allah wujudkan untuk kita. Kalau kita menyangka Allah pelit, ya gak akan dikasih apa-apa kali ya? Hehehe.

Resolusi 18 Tahun

Akhirnya, setelah melakukan kilas balik, saya memutuskan untuk menuliskan kembali resolusi yang ingin saya capai, tepat ketika berulangtahun yang ke-18. Dan kebetulan, resolusi itu sempat saya posting di blog ini. Kalau ada yang ingin baca, bisa baca disini. Atau, secara singkatnya saya tampilkan resolusi ini persis seperti dibawah ini:

Resolusi di umur 18 tahun

Dan tebak apa yang terjadi selama selang satu tahun sesudah saya menulis resolusi tersebut? Sekali lagi, walaupun tidak semua resolusi bisa tercapai, namun apa yang berhasil diraih kadang melebihi ekspektasi dari resolusi itu sendiri.

Resolusi 1: Read all of my books; such as Rich Dad Poor Dad series, Gerakan Muda Memimpin, Young On Top, and Youth Empowerment and Challenges. Time went by, but I can’t share my time to read those. Perhaps I can manage my time better and read these books in peace. | “DONE! Walaupun tidak semua buku, tapi Rich Dad Poor Dad dan Young On Top sudah saya baca. :)”

Resolusi 2: Become the Co-founder of a Youth Movement, I call this as Green Activist, which contribute more than others to create a better life, and help you to make yourself a leader. Time to speak up, and action! | “Yang ini belum terlaksana, bahkan sampai sekarang. Tapi sudah ada pondasi yang pernah saya buat dan insya Allah dalam waktu dekat bisa dilaksanakan.”

Resolusi 3, 4, dan 5:
3. Win one of the Scholarships Award.
    4. Buy a bicycle for my dad. He needs some exercises to keep his body fresh.
    5. Achieve 500 followers in my Twitter. | “ALL ACCOMPLISHED!” 🙂

Resolusi 6: Visit Palembang. I’ve never come to this city in my whole life. What a shame. It’s near from here! -_- | “Memang akhirnya tidak jadi ke Palembang. Tapi saya akhirnya malah untuk pertama kalinya berangkat ke Malang dan Yogyakarta, dua kota yang ingin sekali saya kunjungi sejak dulu.”

Resolusi 7: Join a Jazz course at Jakarta. | “Yang ini memang tidak tercapai, karena saya memang akhirnya tidak jadi tinggal di Jakarta.”

Resolusi 8: End my big-jomblo-period. That’s enough. It survives in more than 3 years. Wow. | “No comment. But finally, I made it. :)”

Resolusi 9: Go to Canberra, Australia next year. I think it’s a must to meet someone who responsible for changing my life. I want to say ‘Howdy, and thanks’ to him. | “Orang yang ingin saya jumpai sudah tidak berada di Australia. Tapi tetap, Australia adalah salah satu impian yang ingin sekali saya tuju.”

Dan memang walaupun Australia tidak bisa saya gapai sekarang, tapi Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih dari cukup: Allah mengizinkan saya untuk menginjakkan kaki di 3 negara sekaligus!: Qatar, Uni Emirat Arab, dan Turki.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. 55: 13)

Nah cukup sekian cerita dari saya malam ini. Jadi, sekarang bisa dijawab kan perlu atau tidaknya membuat sebuah resolusi? Membuat sebuah resolusi memang tidak akan menghabiskan banyak waktu; hanya tinggal duduk dan menuliskan apa yang kita gapai dalam waktu setahun kedepan. Tulis saja berapa pun yang kita inginkan, dan letakkan ditempat-tempat yang senantiasa bisa kita lihat, berfungsi pula sebagai pengingat dan motivator dikala kita lupa dan down.

Jadi, sudahkah kita membuat program-program demi resolusi setahun kedepan?

Kalau belum, yuk sama-sama buat! Saya juga mau buat ah, hihihihi.. 🙂

Budaya Uang dan Polisi di Indonesia. Masih Adakah?

Malam itu, setelah bosan menghadap buku seharian, saya seperti biasa akan menyempatkan diri untuk membuka laptop dan mengintip dunia maya, takut-takut saya ketinggalan sesuatu yang terjadi selama 12 jam dalam hari itu. Hidupkan laptop, pasang modem, dan hop, terkoneksilah ia ke internet. Favorit saya ketika saya online? Twitter, WordPress, Kaskus, dan salah satu website yang saya baru tahu belakangan, 9gag.

Jangan salah, saya juga termasuk kaskuser lho, walaupun lebih banyak berperan sebagai passive reader ketimbang nge-posting thread dan mencari cendol. Apa yang saya suka dari kaskus adalah kadang, dari agan-agan kaskuser kita bisa belajar sesuatu yang kadang tidak kita dapatkan di kehidupan nyata, dan mereka sungguh-sungguh bersemangat dalam menyebarkan semangat nasionalisasi lewat website komunitas terbesar di Indonesia ini.

Nah malam kemarin, saya nyasar di salah satu thread yang judulnya “27 hal yang cuma ada di Indonesia.” Dasar saya orangnya suka penasaran, yaudah, dengan polosnya saya membuka thread tersebut dan mulai membaca. Saya ngikik-ngikik aja sambil geleng-geleng kepala, soalnya apa yang dituliskan disitu “gak ada yang bener“, tapi kenyataannya memang demikian.

Thread ini copyright-nya punya agan AlfinGhoz, terimakasihlah kepada agan ini karena bikin thread lucu yang sekaligus bikin kita mengangguk-angguk setuju.

Saya copy-paste-kan kesini deh untuk teman-teman pembaca sekalian:

1.Cuma di Indonesia seseorg bisa punya KTP lebih dari satu.

2. Cuma di Indonesia seseorg bisa punya SIM tanpa test.

3. Cuma di indonesia yg sering mati lampu dan gk ada airnya.

4. Cuma di Indonesia anak SD bisa beli rokok.

5. Cuma di Indonesia jumlah BB BM yg beredar jauh lbh bnyk dari BB yg legal.

6. Cuma di Indonesia Duta Anti Narkoba ketangkep make Shabu.

7. Cuma di Indonesia pemerintahnya murah hati. Bagi-bagi pulau, lagu daerah, sampai tarian GRATISS!!

8. Cuma di Indonesia segala urusan bisa beres pake UANG.

9. Cuma di Indonesia kita bisa buang sampah dimana2 tanpa denda.

10. Cuma di Indonesia kita bisa naik angkutan umum tanpa hrs nunggu di halte,dimana aja bisa.

11. Cuma di Indonesia makanan2 bekas dan kadaluwarsa bisa disulap jadi makanan siap jual lagi.

12. Cuma di Indonesia kita bisa off road di Jalan Raya (jalannya lobang semua)

13. Cuma di Indonesia pesawatnya gak di apa2in bisa jatuh.

14. Cuma di Indonesia, jembatan baruuu jadi, mur baut nya udah pada hilang buat di loak

15. Cuma di Indonesia jalan raya bisa jadi kolam renang.

16. Cuma di Indonesia, ada orang bisa nyebrang di jalan tol.

17. Cuma di Indonesia, kita bisa lesehan di atas kereta api yang sedang jalan. Asoy!

18. Cuma di Indonesia, orang gak lulus kuliah bisa jadi anggota DPR.

19. Cuma di Indonesia kita bisa nonton DVD dengan kualitas bagus hanya dengan membayar Rp. 7.000,-! (eh, kdg2 bisa 5000)

20. Cuma di Indonesia seorang ABG bisa menimbulkan kontroversi hebat. Diperkosa pangeran, dinikahin sama si pangeran, abis itu disiksa, terus pulang dan memberitakan ke seluruh dunia tentang penderitaannya. . oh iya dan dapet job sinetron bernilai milyaran rupiah bahkan sebelum kasusnya selesai.

23. Cuma di indonesia, rebonding haram hukumnya

24. Cuma di indonesia, facebook bawa bencana

25. Cuma di indonesia, bom dijual eceran… Gas 3kg =D

26. Cuma di indonesia tahanan bisa jalan2..

27. Cuma Di Indonesia, Orang pada ga sadar bahwa jumlah point ini sebenarnya hanya 25

Nah, setelah ngikik-ngikik sambil mikir, “Oiya, bener juga ya?”, datanglah seorang teman Turki saya. Kebetulan saya tinggal di sebuah apartemen bersama teman-teman mahasiswa Turki lainnya, dan cuma saya yang berstatus sebagai pemegang paspor Indonesia di apartemen itu. Teman saya tersebut nanya dalam bahasa Turki, “Kamu baca apa? Kok ketawa-ketawa sendiri?” yasudahlah, akhirnya saya tunjukkan thread itu sekaligus promosi sedikit mengenai kaskus. Inilah enaknya tinggal di luar negeri, bisa menasbihkan diri sendiri sebagai duta negara Indonesia, gratis sekaligus hitung-hitung menyebarkan kebanggaan atas negeri sendiri.

Namun, ada sedikit keraguan untuk menceritakan thread tersebut, karena isinya itu gak ada bagus-bagusnya. Kalau biasanya saya cerita mengenai keindahan alam Indonesia dan nikmatnya kuliner dari negeri kita, nanti apa kata dia yang rencananya suatu saat akan liburan ke Indonesia. FYI, dia akan ke Indonesia ‘cuma’ sekedar untuk membeli Indomie goreng saja! Gila emang kalau orang yang punya duit sudah jatuh cinta pada sesuatu..

Kembali ke thread tadi, akhirnya saya terjemahkan juga thread barusan ke bahasa Turki setelah saya timbang-timbang baik buruknya postingan tersebut. Dia sih ketawa aja pas saya ceritakan postingan tadi dalam bahasa Turki sambil bilang “Oyle mi?” yang artinya kurang lebih “Benarkah?” atau “Hah? Serius?” Yah, seperti itulah konteksnya kira-kira. Tahu favoritnya? Coba naik lagi ke atas dan cek poin nomer 20. Favoritnya adalah cerita tentang Manohara yang katanya ceritanya sungguh luar biasa.. luar biasa gilanya.

Akhirnya kami berhenti di poin yang menjadi perhatian kami berdua:

8. Cuma di Indonesia segala urusan bisa beres pake UANG.

Apa yang dia ucapkan sesudah poin inilah yang saya angkat untuk dijadikan tulisan kali ini. Sedikit banyak yang saya ingat, inilah yang kira-kira teman saya sampaikan pada malam itu, yang mampu membuat saya sendiri diam dan berpikir:

“Uang memang telah menjadi masalah di segala tempat, bahkan di seluruh pelosok dunia. Mungkin tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Turki. Turki sendiri pernah merasakan fenomena ketika uang menjadi tuan atas segala masalah yang terjadi. Uang ada, masalah beres; begitulah terminologi yang terjadi. Tapi sekarang Turki sudah berbeda, praktek penggunaan  untuk mengurus segala sesuatu sudah hampir tidak ada lagi.

Tahu apa yang dulu terkenal dari masalah uang ini? Dulu di Turki, ketika polisi memberhentikan kamu karena melanggar peraturan lalu lintas, cukup buka jendela mobil dan salaman dengan polisi yang memberhentikan tersebut sambil menyodorkan sejumlah besar uang sebagai uang masalah beres di tempat. (Untuk hal ini, saya senyum menahan ketawa karena mikirnya, “Sialan, ini Indonesia banget!”) Tapi, hal seperti itu sekarang sudah tidak bisa dilakukan lagi. Banyak polisi yang sekarang berpura-pura menjadi penumpang biasa dan sengaja untuk melanggar peraturan lalu lintas. Tujuannya cuma satu: mencoba untuk mencari polisi-polisi nakal yang masih menerima uang gelap tersebut. Jika ada yang tertangkap tangan menerima uang yang disodorkan oleh ‘penumpang palsu’ itu, hukumannya tidak main-main, si polisi penerima uang tersebut akan dimasukkan penjara selama 5 tahun. Dan 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mendekam di dalam penjara.”

Wah, ternyata Turki pernah punya masalah yang sama dengan yang Indonesia punya. Masalah klasik yang menjengkelkan seperti polisi lalu lintas masih menagih dan menerima uang damai pernah juga mereka rasakan. Lalu teman saya tadi menambahkan sesuatu yang rasanya memang layak untuk membuat kita berpikir:

“Bagaimana dengan Indonesia? Apa masih ada yang seperti ini? Kenapa, kalian belum bisa untuk menyelesaikannya ya?”

Ya, betul sekali, kita masih belum bisa menyelesaikannya. Apa yang sebenarnya menjadi akar masalah dari semua ini?

Bisa jadi karena kebijakan, atau juga masalah kasta yang terjadi dalam instansi kepolisian. Sebuah kasta antara komandan dan anak buah yang sering terjadi. Mungkin bisa diberikan hipotesa sementara bahwa komandan-komandan polisi di Turki akan dengan senang hati turun ke jalan memeriksa bawahannya yang sering meresahkan masyarakat dengan berpura-pura menjadi masyarakat biasa. Nah bagaimana dengan di Indonesia? Waduh boro-boro deh. Kalau pun ada komandan di Indonesia yang melakukan demikian, paling jumlah sangat sedikit dan tidak seimbang dengan jumlah bawahannya yang berada di lapangan.

Atau mungkin begitu rendahnya tingkat kesejahteraan para anggota yang berada di lapangan dengan para komandannya? Mungkin pernah ada yang melihat polisi-polisi berpangkat rendah yang setia menggunakan motor biasanya harus memberikan hormat kepada komandannya yang memang terkenal karena royal mengganti-ganti mobilnya bahkan 2 bulan sekali? Sebegitu besarkah jurang yang terjadi di dalam instansi kepolisian, hingga mereka harus terpaksa mencari dan menerima uang-uang damai tersebut demi kelancaran hidup keluarga mereka?

Atau mungkin secara general, ini juga bersumber dari kualitas masyarakat Indonesia itu sendiri. Keinginan untuk berbuat demi kehidupan yang lebih baik terbebas dari segala praktek uang rasanya masih belum tumbuh sumbur di lingkungan kehidupan kita. Bagaimana masyarakat Indonesia menjadi visioner dalam melihat Indonesia yang bebas dari budaya praktek uang, mungkin masih jauh dari harapan kita, selama tingkat kesejahtreraan masih terjadi batas pemisah yang begitu menganga luas perbedaannya, antara yang kaya dan yang miskin, antara bos dan anak buah, antara besar dengan yang kecil.

Lalu, bagaimana kita harus menjawab pertanyaan yang disodorkan oleh teman Turki saya barusan tadi?

“Bagaimana dengan Indonesia? Apa masih ada yang seperti ini? Kenapa, kalian belum bisa untuk menyelesaikannya ya?”

Maka ada dua jawaban yang tersedia untuk pertanyaan tersebut:

  • Ya, kami belum bisa menyelesaikannya, bahkan belum tahu kapan akan menyelesaikannya.
  • Ya, memang kami belum bisa menyelesaikannya sekarang, tapi kami tahu bahwa kami selalu punya harapan. Semoga dalam waktu dekat kami bisa bersama-sama saling membantu demi menyelesaikan budaya uang yang begitu jelek ini.

Bagaimana dengan Anda? Semua terserah kepada Anda, tinggal Anda yang memilih mana jawaban yang kira-kira tepat untuk dijawab, dan aksi seperti apa yang harus dilakukan demi menyikapi jawaban yang Anda pilih tersebut.

Semoga menjadi renungan untuk kita semua.